Bayi tabung menurut MUI

16
106

Bayi tabung merupakan salah satu pencapaian teknologi pada bidang fertilitas. Seseorang yang sebelumnya divonis tidak akan bisa hamil dengan teknologi bayi tabung berhasil memiliki anak.

Bagaimanakan fatwa hukum agama memandang proses bayi tabung? Di Indonesia melalui Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa terhadap proses bayi tabung.

Berikut petikannya:

MEMUTUSKAN

Memfatwakan :

  1. Bayi tabung dengan sperma dan ovum dari pasangan suami isteri yang sah hukumnya mubah (boleh), sebab hak ini termasuk ikhiar berdasarkan kaidahkaidah agama.
  2. Bayi tabung dari pasangan suami-isteri dengan titipan rahim isteri yang lain (misalnya dari isteri kedua dititipkan pada isteri pertama) hukumnya haram berdasarkan kaidah Sadd az-zari’ah, sebab hal ini akan menimbulkan masalah yang rumit dalam kaitannya dengan masalah warisan (khususnya antara anak yang dilahirkan dengan ibu yang mempunyai ovum dan ibu yang mengandung kemudian melahirkannya, dan sebaliknya).
  3. Bayi tabung dari sperma yang dibekukan dari suami yang telah meninggal dunia hukumnya haram berdasarkan kaidah Sadd a z-zari’ah, sebab hal ini akan menimbulkan masalah yang pelik, baik dalam kaitannya dengan penentuan nasab maupun dalam kaitannya dengan hal kewarisan.
  4. Bayi tabung yang sperma dan ovumnya diambil dari selain pasangan suami isteri yang sah hukumnya haram, karena itu statusnya sama dengan hubungan kelamin antar lawan jenis di luar pernikahan yang sah (zina), dan berdasarkan kaidah Sadd az-zari’ah, yaitu untuk menghindarkan terjadinya perbuatan zina sesungguhnya.

Jakarta, 13 Juni 1979

DEWAN PIMPINAN
MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua Umum, Sekretaris Umum,
ttd. Ttd.

Ketua Komisi Fatwa,
ttd.

sumber: http://mui-jabar.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here